Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juni 2012

LAYAR TANCEP JEMUWAH WAGE


Kali ini pada tanggal 28 Juni 2012 bertempat di Pelataran Koomunitas Jemuwah Wage Gabus ditayangkan film pendek berjudul ‘KIRAB’ sebagai bentuk apresiasi atas karya  Teater Falah Picture SMK Al Falah Winong. Dalam perjalannya karya siswa SMK Al Falah Winong ini berhasil meraih predikat  Juara III pada Festival Film Pendek Nasional 2011, sebuah prestasi yang patut diacungi jempol dan patut dicontoh oleh generasi muda
 

‘KIRAB’

Film ini berlatar belakang keseharian

Adalah KIRAB, sebuah peristiwa penting yang merubah pandangan Olla (remaja SMA anak seorang janda) bahwa fungsi lebih penting ketimbang gengsi. Dengan sabar Ibu (orang tua satu satunya Olla) memahami apa yang anaknya inginkan

Olla yang tiba tiba terpilih menjadi slah satu pembawa bendera pada KIRAB bendera 17-an di kecamatan membuat bangga sekaligus kecewa lantaran dia begitu keras kepala

Semangat  yang Ibu bangun dengan menyiapkan bendera demi anaknya, lebur oleh gengsi Olla yang menuntut lebih dari apa yang sebenarnya ia miliki. Ya , bendera usang Olla buang, menuntut Bendera baru yang sebenarnya tidak perlu. Padahal ibunya yang hanya sendiri mencari rejeki, mesti membagi uang hasil memeras keringat sebagai buruh tani untuk biaya sekolah juga melunasi hutang tinggalan bapaknya. Meski demikian, Ibu khusyuk menyayangi dan menuruti keinginan anaknya

Olla adalah korban sistem sosial yang berkembang saat ini. Inti dari gaya hidup sederhana tercerabut oleh Gengsi, Konsumerisme dan Hedonisme

KIRAB mencoba mengilistrasikan tentang Gengsi dalam Kemiskinan




Team Produksi Film ‘KIRAB’ :
Eksekutif Produser : Bp. Muchlisin, Produser : Bp. Pendi Subarong, Sutradara : Suyono, Artistik : Cholimatul Sa’diah, Desy Listyani, Make Up : Ika Irawati, Ninik Karsini, Pimpinan Produksi : Joko Utomo, Kameramen : Arif Budiantoro, Manager Palaksana : Tanti Rahmawati, Story Board : Moh. Muchlis, Pencatat Adegan : Endang Nur F., Cleeper : Ikhwan A.F., Pemeran Olla : Olla Isabela

Sabtu, 17 Maret 2012

JEMUWAH WAGE TEATERAN


 

















Pementasan Drama  “Mengasah Pisau Cukur”  oleh Teater Keset Kudus

Di
Pelataran Jemuwah Wage   Ds/Kc Gabus Rt 5/V Pati

Hari, Tanggal
Kamis, 15 Maret 2012

Jam
19.30    Wib

Susunan Acara
-     Pementasan Drama  “Mengasah Pisau Cukur”  oleh Teater Keset Kudus
-     Diskusi Pementasan
-     Pemutaran Film (kalo sempet)


 

“ Mengasah Pisau Cukur “  Karya :  Hanindawan


        Adalah Pak Emon, seorang tua yang berprofesi sebagai Tukang Cukur keliling yang memilih berteduh dibawah pohon untuk menjalankan usahanya tsb. Namun menurut penuturan Pak Emon sendiri, pohon – pohon tempat ia berteduh selalu saja ditumbangkan dengan berbagai alasan. Sehingga Pak Emon harus mencari pohon – pohon yang lain yang bisa ia jadikan tempat berteduh. Hingga ia menemukan sebuah tempat yang ia anggap sebagai tempat terakhirnya. Disana ia juga menanam pohon sendiri yang ia anggap miliknya dan tak ada seorangpun yang bisa menebangnya. Ternyata, Pak Emon juga menyimpan semua cerita memilukan selama hidupnya menjadi orang yang selalu terusir karena penebangan – penebangan pohon tempat ia berteduh. Dendampun menjadi satu – satunya alasan yang membuat ia selalu menunggu seseorang, laki – laki, yang ia anggap telah membuat dia kehilangan semuanya. Termasuk anak dan istrinya yang meninggal dunia karena sakit dan ia tak mampu membeli obat. Semua laki – laki yang ia jumpai, selalu dalam prasangka dendam Pak Emon. Sering ia mengkhayal ada seorang laki – laki yang datang untuk potong rambut, dan diyakininya bahwa laki – laki itulah yang selalu menebangi pohon – pohon.
Adalah Ifah dan Selamet, yang juga berada ditempat terakhir Pak Emon menanam pohonnya sendiri, yang sudah hafal betul perilaku Pak Emon. Ifah, seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya, yang menyatakan kepedulian pada Pak Emon dengan rela menghidupi Pak emon untuk tetap bertahan hidup. Wanita penjaja gorengan, yang sudah menganggap Pak Emon senagai orang tuanya sendiri. Yang tak rela Pak Emon memendam dendam kesumatnya. Selamet, seorang laki – laki yang membujang karena tak ada satu wanitapun yang mau menjadi pendamping hidupnya. Yang diam – diam juga menyukai Ifah, tetapi tak berani mengungkapkan isi hatinya. Seorang yang terlihat lugu apa adanya ketika berbicara.

Adalah Sopir angkota, yang juga menaruh hati pada Ifah, yang ternyata sudah memiliki anak istri. Rela melakikan apa saja demi mendapatkan pujaan hatinya. Yang ternyata, juga dicurigai Pak Emon sebagai laki – laki penebang pohon – pohon Pak Emon. Hingga suatu saat, Sopir itu tak berdaya menghadapi bujuk rayu Pak Emon untuk duduk di kursi yang sudah ia persiapkan sejak lama. Di atas kursi itulah, Pak emon merasa ia tidak sia – sia menunggu dan selalu mengasah pisau cukurnya hingga tajam. Pisau Cukur, yang ia anggap satu – satunya senjata yang ia anggap mematikan yang hanya dimiliki seorang tukang cukur keliling. Prosesi pembalasan dendam pun sudah begitu rupa dipersiapkan Pak Emon selam bertahun – tahun, hingga ia terlupa bahwa ada orang – orang yang tak rela adanya dendam yang terbalas pada orang yang belum tentu bersalah itu. Dan Pak Emon pun harus kembali tersungkur dibawah pohon rindang itu dengan dendam yang terus membuncah pada setiap laki – laki yang ia anggap sebagai penebang pohon – pohon itu. “ tak ada lagi yang bisa menebang pohon sesuka hatinya “ demikianlah ucapan Pak Emon demi menjaga pohon – pohonnya itu.
Sebuah cerita yang mengulas tentang makna – makna hidup yang multi kompleks dan multi tafsir tersebut. Yang bisa kita dengar dari berbagai sisi kehidupan realita, betapa penggusuran yang terjadi demi sebuah keberpihakan kepentingan. Sehingga banyak korban dari kalangan kecil yang tidak tahu menahu prosedur hukum yang ada. Juga makna dari sisi penebangan – penebangan pohon di hutan yang tanpa didasari ijin yang juga tanpa perhitungan resiko yang akan dihadapi. Sebuah proses kehilangan kita terhadap kawasan hijau yang menjadi sumber kehidupan kita...adalah... POHON.

Sutradara : Jesi Segitiga, Astrada : Didik Ariyadi, Aktor dan Aktris : Wisnu Dw sbg Pak Emon, Evi Coin sbg Ifah,  Lasimin Djavu sbg Selamet,  Dito Morra sbg Sopir ,                      
Pnt Musik : Zainuddin  Abdillah S,Pd., Widha Sukardi, Ulul Azmi, Ahmad Zaki Yamani S,Pdi

Jumat, 10 Februari 2012

JEMUWAH WAGENAN eneh...


Acara : Jemuwah Wagenan
kamis, 9 pebruari 2012
jam 19.00 wib sampai selesai
di pelataran jemuwah wage

bersama Mbah Jas
mempersembahkan:
WAYANG TUTUR
dilanjutkan dialog budaya
di KOMUNITAS JEMUWAH WAGE - Gabus
  
 
Mbah Jas
Seperti malam jemuwah wage selapan hari (35 hari) yang lalu Komunitas Jemuwah Wage Gabus melaksanakan "tirakatan melekan" bersamaan dengan Barongan menjalankan ritual bersih desa mengitari Desa Gabus, akan tetapi suasana malam jemuwah wage kali ini terasa lebih sumringah karena suguhan pementasan "Wayang Tutur" oleh Ki Dalang Mbah Jas dan dalam pementasannya Mbah Jas membawakan lakon (lampahan) Yama Dakni.
Yang menjadikan wayang Mbah Jas ini lain dari pementasan wayang pada lazimnya adalah bentuk wayang yang ditampilkan, tampilan wayangnya ada 2 (dua) macam yaitu wayang yang terbuat dari bathok (tempurung kelapa) dan wayang yang terbuat dari bahan karpet plastik (biasa untuk talang air) dengan profil tokoh-tokoh kethoprak. Pada akhir cerita sang dalang menyampai petuah-petuah (pitutur) yang berkaitan dengan lakon yang dimainkan sehingga penonton dapat mengambil hikmah dari cerita yang telah disajikan, oleh karena itulah disebut wayang tutur.
Pada Jemuwah Wagenan kali ini juga banyak konco-konco penggiat seni dari sekitar Pati, Margayoso, Juwana, Kayen, Winong hadir, juga para sesepuh tokoh masyarakat dan pejabat di Kecamatan Gabus turut hadir meramaikan acara. Memang tidak sekedar melekan yang dilakukan, tetapi ada hal yang dibahas yaitu menyusun rencana perayaan 17-an yang akan diisi dengan pentas seni dan budaya, seperti dikatakan oleh mas Didik, " Kami masyarakat Gabus merindukan adanya kegiatan seni dan budaya seperti yang pernah terjadi sekitar 20 tahun yang lalu.....", maka terjadilah dialog.... 
Apapun perbincangan jemuwah wage kali ini kita tunggu saja hasilnya...

WAYANG TUTUR 
lakon "Yama Dakni"
 
Bercerita tentang kehidupan seorang Raja yang bernama Yama Dakni.
Kemapanan tidak  memberikan kepuasan batin bagi seorang Raja sehingga membuat Sang Raja memutuskan meninggalkan  keduniawian pergi bertapa, akan tetapi ditengah pensucian diri godaan menimpanya, Sang Permaisuri yang ditinggalkan terpikat pada seorang lelaki. Dari sinilah prahara kehidupan keluarga mulai terjadi.

Ternyata setinggi apapun derajad kemanusiaan seseorang tetap akan mengalami godaan hidup, tinggal mampu atau tidak menjalaninya……
 

Senin, 16 Januari 2012

BARONGSAI Mengitari Desa Gabus

Menjelang tahun baru imlek 2563 warga Tionghoa di Desa/Kec. Gabus Kabupaten Pati merayakannya dengan menghadirkan pertunjukan Barongsai, pertunjukan ini disambut meriah oleh warga gabus sehingga mereka tumpah ruah memenuhi jalan raya ingin melihat pertunjukan Barongsai. 

Barongsai diarak mulai dari Tugu Gabus ke arah selatan lalu kembali dan mengitari Pasar Gabus dan kembali ke sekitar tugu, dalam perjalanannya barongsai melakukan atraksi memungut Angpao dirumah-rumah maupun toko yang oleh pemilik rumah angpao diletakkan atau digantung di tempat yang tinggi sehingga untuk mengambilnya barongsai harus berdiri dan ini menjadi atraksi yang menarik, karena penari harus berdiri bergendongan untuk dapat mencapai ketinggian angpao.  
 
Menurut warga Tionghoa pertunjukan barongsai merupakan pertunjukan yang dapat membawa keberuntungan selain itu juga dipercaya dapat menolak bala dan kesialan bagi warga Tionghoa, sehingga diharapkan rumah yang dihampiri barongsai akan mendapat keberuntungan dan terhindar dari kesialan.

Konon ceritanya, ada beberapa versi sejarah Barongsai. Yang paling terkenal adalah versia Nian (monster). Pada masa Dinasti Qing, di satu wilayah di China ada monster yang mengganggu penduduk setempat hingga menimbulkan keresahan dan ketakutan. Saat itulah muncul singa (barongsai) untuk menghalau monster tersebut. Akhirnya, monster kalah dan lari ketakutan.
 
Setelah itu singanya pergi. Tapi monster ini ternyata mau balas dendam dan masyarakat tidak tahu. Mereka bingung, ada di mana singa yang bisa mengalahkan monster itu. Akhirnya mereka buat kostum barongsai seperti yang ada sekarang, dan berhasil menyingkirkan monsternya.

Hal inilah yang mendasari mengapa barongsai selalu hadir dalam perayaan Imlek, yaitu mengusir monster yang kita samakan dengan aura-aura yang buruk.

Demikian pula yang telah dilaksanakan warga tionghoa gabus, semoga keberuntungan menyelimuti bukan saja warga tionghoa tapi seluruh warga masyarakat gabus dan terhindar dari malapetaka atau kesialan, Amin..


Minggu, 04 Desember 2011

JEMUWAH WAGENAN

 
kumpulan jemuwah wagenan
kamis, 1 desember 2011
jam 20:00 wib
di pelataran jemuwah wagenan

diisi pentas monolog “PECERèN” oleh dwi riyanto
dan diskusi budaya
 



Kumpulan jemuwah wagenan merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Komunitas Jemuwah Wage Gabus pada tiap malem jemuwah wage bersamaan dengan ritual barongan muteri (mengelilingi) pasar Gabus.
Kumpulan dilaksanakan dengan suasana santai sambil minum kopi atau teh dan makan jajanan seadanya, berdiskusi ngalor ngidul tentang seni dan budaya.
Topik bahasan diskusi yang diangkat tentang eksistensi dan kebanggaan atas budaya lokal yang mulai terdesak oleh budaya-budaya global. Satu hal yang pasti, pertentangan dan tarik-menarik yang terjadi antara budaya lokal dan global tersebut tak bisa dihindari, dan terus akan berlangsung, lalu bagaimana kita menyikapinya?
Dan kumpulan kali ini dipentaskan Monolog "PECERèN" oleh Dwi Riyanto dengan ilustrasi lagu oleh Gagego Musik Kampoeng.

photo posting : Anggit Tejo Sasongko

PECERèN adalah parit kecil yang berfungsi sebagai saluran pembuangan limbah keluarga
sekaligus saluran air hujan disekitar rumah.
Dalam perkembangan jaman karena kebutuhan akan rumah,
sering orang lupa untuk menyisakan tanahnya
guna difungsikan sebagai pecerèn.
Dan yang terjadi air limbah merambah ke tanah tetangga.
Hal tersebut akan menimbulkan pertengkaran.

Itulah tema monolog di komunitas jemuwah wagenan
desa Gabus - Pati - Jawa Tengah.
Sederhana..!!

Ilustrasi lagu "PECERèN" (Dirembug)
(Gagego Musik Kampoeng)
 
Bebarengan ayo dirembug perlune aja padu
ketemu karepe kebukak byak.. byak.. byak..
ayo padha ngguyu..
Ayo padha dikulinakna rembugan perkarane
aja karepe dhewe kebukak byak.. byak.. byak..
ayo padha ngguyu..
 
Pring sedhapur.. ing pinggir desa..
dadi tuladha.. kanggo para warga..
Ayo dulur.. sing padha akur..
aja dha tawur.. engko mundak ajur..
Iki ngono mung lelagon gegojegan