Sabtu, 26 November 2011

Riwayat Pati

Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara". Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu "keris rambut pinutung dan kuluk kani" merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan.
Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.

 

Kevakuman Pemerintahan di Pulau Jawa

Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri.
Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten.
Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu. 1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama Yudhapati, wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai putra bernama Raden Jasari. 2. Penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama: Puspa Andungjaya, wilayah kekuasaannya meliputi utara sungai Juwana sampai pantai Utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan

 

Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Berbesanan

Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama "Sapanyana".
Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.
Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik).
Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkawinan antara " Raden Jasari " dan " Rara Rayungwulan " gagal total.
Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.
Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama " Singasari ".

 

Kadipaten Pesantenan

Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama " Kadipaten Pesantenan dengan gelar " Adipati Jayakusuma di Pesantenan.
Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu " Raden Tambra ". Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar " Adipati Tambranegara ". Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Menjadi songsong agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat.

 

Kabupaten Pati

Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.
Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ..... Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar "Rakai", Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya.

 

Pati Bagian dari Majapahit

Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ..... Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka.
Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit.
Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323.

 

Hari Jadi Pati

Kemudian diadakan seminar pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati yang dihadiri oleh para perwakilan lapisan masyarakat Kabupaten Pati, para guru sejarah SMA se Kabupaten Pati, Konsultan, Dosen Fakultas Sastra dan Sejarah UNDIP Semarang, secara musyawarah dan sepakat memutuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati.
Tanggai 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor : 2/1994 tanggal 31 Mei 1994, sehingga menjadi momentum Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala " KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI " yang bermakna " Dengan bekerja keras dan penuh do'a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah ". Untuk itu maka setiap tanggal 7 Agustus 1323 yang ditetapkan dan diperingati sebagai "Hari Jadi Kabupaten Pati".
Tulisan diunduh dari: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pati

Jumat, 25 November 2011

Bancakan Pojok Lor Pasar Gabus

Dalam rangka selamatan Sedekah Bumi, reresik bumi gabus supaya Desa Gabus selalu dalam lindungan Tuhan YME, mendapatkan rejeki yang berkecukupan, juga mendoakan para leluhur Desa Gabus agar dimuliakan oleh Nya.












Danyang Desa Gabus

Para Danyang Desa Gabus :  



kyai Dalim (kletak), 
kyai Wenang (gabus kulon), 
kyai Damarjati (jaten),
kyai Sekar Petak (sekar petak)
nyai Serambi (pasar),
kyai Gonggomino (pasar),
kyai Slamet (pasar),
kyai Suwatu (gabus lor),
kyai Dalim (wedusan),
kyai Sona (gabus kidul)





Kalau ada kesalahan informasi mohon dibetulkan




Rabu, 23 November 2011

Gunungan

Persiapan utk acara sedekah bumi, mengangkat simbol gunungan sbg rasa syukur yg memberi kehidupan atas tanah yg subur dg hasil bumi yg melimpah. smg bumiku tetap sejahtera, murah sandang, murah pangan, toto titi tentrem kerto raharjo nirboyo ing sambikolo. (Foto dan teks: Zubeth Hesa).

Arak-Arakan Sedekah Bumi Gabus 2011

Sedekah Bumi di Desa Gabus secara rutin telah dilakukan tiap tahun sebagai sebuah ritual budaya dalam upaya bersih desa oleh warga desa yang didalamnya meliputi doa syukur kehadirat Tuhan YME sekaligus doa permohonan berkah dan rezeki dimasa depan serta mendoakan para leluhur desa.
Pada pelaksanaan sedekah bumi tahun lalu (tahun 2010) terdapat pengembangan dalam pelaksanaan sedekah bumi di Desa Gabus yaitu adanya ritiual arak-arakan (kirab) yang dilaksanakan oleh pemimpin desa gabus (Kapala Desa beserta perangkat), peristiwa arak-arakan ini ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat sehingga untuk pelaksanaan sedekah bumi tahun ini arak-arakan diharapkan dapat dilaksanakan kembali dan dapat dilaksanakan secara rutin tiap tahunnya.
Oleh karena itu panitia sedekah bumi tahun ini kembali mengadakan acara arak-arakan yang lebih disempurnakan dengan menambahkan Gunungan pada rangkaian arak-arakan sebagai simbol kebersamaan warga desa dalam pelaksanaan sedekah bumi dan ritual doa sebagai perwujudan permohonan masyarakat kepada Tuhan YME dan penghormatan kepada leluhur
Pelaksanaan sedekah bumi dilaksanakan dalam 2 (dua) bentuk prosesi :
  1. Arak-arakan gunungan dan doa bersama
  2. Hiburan
1.    Arak-arakan gunungan dan doa bersama
Bentuk prosesi :
a.    Arak-arakan gunungan, adalah mengiring gunungan berjumlah 4 (empat)  dibuat oleh perwakilan RT-RT bagian barat, timur, utara dan selatan dan 1(satu) tumpeng manganan dibuat oleh perangkat desa, yang diarak dimulai dari rumah bapak kepala desa sampai ke suatu tempat (terminal pasar) untuk di doakan.
Arak-arakan dipimpin oleh bapak kepala desa beserta perangkat desa dan ketua RW dan RT dengan menggunakan pakaian adat jawa atau pakaian jawa keseharian, dan diikuti pula oleh kelompok seni ( barongan, kelompok rebana, pencak silat dll) sebagai pengiring.
b.   Doa bersama, 4 gunungan dan 1 tumpeng manganan diletakkan di tengah arena, seluruh warga desa melakukan doa bersama yang diwakilkan kepada perwakilan kelompok agama yang ada di desa gabus sebagai bentuk rasa syukur warga desa gabus kepada Tuhan YME sekaligus doa permohonan berkah dan rezeki dimasa depan, serta mendoakan para leluhur desa.
c.    Kirim manganan sebagai penghormatan kepada leluhur Desa Gabus, setelah acara doa bersama tumpeng manganan dan sebagian dari gunungan  dikirimkan ke makam  para leluhur (punden) desa gabus sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada leluhur desa.
Pada akhir acara gunungan diperebutkan oleh masyarakat (rebutan)

2.    Hiburan
Hiburan dilaksanakan dengan menyuguhkan antara lain pagelaran wayang kulit siang dan malam di pasar dan  pemutaran film pada malam harinya tentang potret kehidupan masyarakat desa gabus, serta pementasan kesenian lain disesuaikan dengan kemampuan keuangan desa.


URUTAN PELAKSANAAN :
Sedakah bumi dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 16 Oktober 2011

1.  Sebelum tanggal 16 Oktober 2011 masyarakat dibantu oleh panitia membuat gunungan berjumlah 4 buah gunungan sebagai simbol kebersamaan sesuai dengan kelompok RW. Pengelompokannya adalah :
a.    Gunungan 1 oleh RW 5 dan 8
b.    Gunungan 2 oleh RW 6 dan 7
c.    Gunungan 3 oleh RW 3 dan 4
d.    Gunungan 4 oleh RW 1 dan 2

2.    Tanggal 16 Oktober 2011 :
  • Pukul 09.00 pagi hari diadakan pementasan wayang kulit di pasar gabus
  • Pukul 14.30 gunungan dan peserta arak-arakan sudah siap di petinggen (rumah kepala desa) sekaligus persiapan arak-arakan
  • Pukul 15.00 arak-arakan diberangkatkan dari petinggen menuju terminal gabus
  • Pukul 16.30 arak-arakan sampai di tempat prosesi doa (terminal gabus), dan prosesi doa bersama dilaksanakan dipimpin oleh pemuka agama
  • Pukul 17.15 acara doa bersama selesai, dan gunungan diperebutkan (diroyok) oleh masyarakat, dilanjutkan pengiriman manganan ke makam leluhur desa sebagai simbol penghormatan dan kecintaan kepada leluhur desa.
  • Pukul 19.00 pemutaran film sampai selesai
  • Pukul 20.30 melanjutkan pementasan wayang kulit di pasar sampai selesai

PESERTA ARAK-ARAKAN :
Barisan sesuai urutan dari depan :
  1. Barongan
  2. Pencak Silat
  3. Kepala Desa dan Keluarga dengan berpakain jawa yang disesuaikan
  4. Dalang Ki Mursa
  5. Tumpeng Manganan
  6. Gunungan 1 diikuti Ketua RT-RT dan Ketua RW 7 dan RW 8 dengan berpakain jawa yang disesuaikan
  7. Gunungan 2 diikuti Ketua RT-RT dan Ketua RW 6 dan RW 7 dengan berpakain jawa yang disesuaikan
  8. Gunungan 3 diikuti Ketua RT-RT dan Ketua RW 3 dan RW 4 dengan berpakain jawa yang disesuaikan
  9. Gunungan 4 diikuti Ketua RT-RT dan Ketua RW 1 dan RW 2 dengan berpakain jawa yang disesuaikan
  10. Kelompok rebana
  11. Kelompok kesenian lain dan atau kelompok partisipan lain.

RUTE ARAK-ARAKAN :
Petinggen (rumah kepala desa) – Tugu – depan Kantor Polisi -  ke timur mengitari Pasar – Terminal.

Diharapkan masyarakat Desa Gabus turut berpartisipasi memeriahkan pelaksanaan sedekah bumi dan mari bersama kita lestarikan dan wariskan budaya nenek moyang untuk generasi penerus. Matur Nuwun.

AGOENG SOELISTIJONO

Lahir 18 Pebruari 1967.
Masa kanak-kanak hingga lajangnya dibesarkan dalam suasana sentuhan kampung budaya Gabus.
Sekali waktu pernah berguru ngelmu paguyuban-patembayan sebisa-bisanya. Sekarang menjalani kehidupan bangsa nomad, hidup berpindah-pindah dari satu masyarakat ke masyarakat lain mengikuti kemana angin meniup...