Sabtu, 17 Maret 2012

JEMUWAH WAGE TEATERAN


 

















Pementasan Drama  “Mengasah Pisau Cukur”  oleh Teater Keset Kudus

Di
Pelataran Jemuwah Wage   Ds/Kc Gabus Rt 5/V Pati

Hari, Tanggal
Kamis, 15 Maret 2012

Jam
19.30    Wib

Susunan Acara
-     Pementasan Drama  “Mengasah Pisau Cukur”  oleh Teater Keset Kudus
-     Diskusi Pementasan
-     Pemutaran Film (kalo sempet)


 

“ Mengasah Pisau Cukur “  Karya :  Hanindawan


        Adalah Pak Emon, seorang tua yang berprofesi sebagai Tukang Cukur keliling yang memilih berteduh dibawah pohon untuk menjalankan usahanya tsb. Namun menurut penuturan Pak Emon sendiri, pohon – pohon tempat ia berteduh selalu saja ditumbangkan dengan berbagai alasan. Sehingga Pak Emon harus mencari pohon – pohon yang lain yang bisa ia jadikan tempat berteduh. Hingga ia menemukan sebuah tempat yang ia anggap sebagai tempat terakhirnya. Disana ia juga menanam pohon sendiri yang ia anggap miliknya dan tak ada seorangpun yang bisa menebangnya. Ternyata, Pak Emon juga menyimpan semua cerita memilukan selama hidupnya menjadi orang yang selalu terusir karena penebangan – penebangan pohon tempat ia berteduh. Dendampun menjadi satu – satunya alasan yang membuat ia selalu menunggu seseorang, laki – laki, yang ia anggap telah membuat dia kehilangan semuanya. Termasuk anak dan istrinya yang meninggal dunia karena sakit dan ia tak mampu membeli obat. Semua laki – laki yang ia jumpai, selalu dalam prasangka dendam Pak Emon. Sering ia mengkhayal ada seorang laki – laki yang datang untuk potong rambut, dan diyakininya bahwa laki – laki itulah yang selalu menebangi pohon – pohon.
Adalah Ifah dan Selamet, yang juga berada ditempat terakhir Pak Emon menanam pohonnya sendiri, yang sudah hafal betul perilaku Pak Emon. Ifah, seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya, yang menyatakan kepedulian pada Pak Emon dengan rela menghidupi Pak emon untuk tetap bertahan hidup. Wanita penjaja gorengan, yang sudah menganggap Pak Emon senagai orang tuanya sendiri. Yang tak rela Pak Emon memendam dendam kesumatnya. Selamet, seorang laki – laki yang membujang karena tak ada satu wanitapun yang mau menjadi pendamping hidupnya. Yang diam – diam juga menyukai Ifah, tetapi tak berani mengungkapkan isi hatinya. Seorang yang terlihat lugu apa adanya ketika berbicara.

Adalah Sopir angkota, yang juga menaruh hati pada Ifah, yang ternyata sudah memiliki anak istri. Rela melakikan apa saja demi mendapatkan pujaan hatinya. Yang ternyata, juga dicurigai Pak Emon sebagai laki – laki penebang pohon – pohon Pak Emon. Hingga suatu saat, Sopir itu tak berdaya menghadapi bujuk rayu Pak Emon untuk duduk di kursi yang sudah ia persiapkan sejak lama. Di atas kursi itulah, Pak emon merasa ia tidak sia – sia menunggu dan selalu mengasah pisau cukurnya hingga tajam. Pisau Cukur, yang ia anggap satu – satunya senjata yang ia anggap mematikan yang hanya dimiliki seorang tukang cukur keliling. Prosesi pembalasan dendam pun sudah begitu rupa dipersiapkan Pak Emon selam bertahun – tahun, hingga ia terlupa bahwa ada orang – orang yang tak rela adanya dendam yang terbalas pada orang yang belum tentu bersalah itu. Dan Pak Emon pun harus kembali tersungkur dibawah pohon rindang itu dengan dendam yang terus membuncah pada setiap laki – laki yang ia anggap sebagai penebang pohon – pohon itu. “ tak ada lagi yang bisa menebang pohon sesuka hatinya “ demikianlah ucapan Pak Emon demi menjaga pohon – pohonnya itu.
Sebuah cerita yang mengulas tentang makna – makna hidup yang multi kompleks dan multi tafsir tersebut. Yang bisa kita dengar dari berbagai sisi kehidupan realita, betapa penggusuran yang terjadi demi sebuah keberpihakan kepentingan. Sehingga banyak korban dari kalangan kecil yang tidak tahu menahu prosedur hukum yang ada. Juga makna dari sisi penebangan – penebangan pohon di hutan yang tanpa didasari ijin yang juga tanpa perhitungan resiko yang akan dihadapi. Sebuah proses kehilangan kita terhadap kawasan hijau yang menjadi sumber kehidupan kita...adalah... POHON.

Sutradara : Jesi Segitiga, Astrada : Didik Ariyadi, Aktor dan Aktris : Wisnu Dw sbg Pak Emon, Evi Coin sbg Ifah,  Lasimin Djavu sbg Selamet,  Dito Morra sbg Sopir ,                      
Pnt Musik : Zainuddin  Abdillah S,Pd., Widha Sukardi, Ulul Azmi, Ahmad Zaki Yamani S,Pdi

Jumat, 09 Maret 2012

Pitutur Di Jaman Yang Kehilangan Tutur

Putut Puspito Edi
oleh Putut Puspito Edi pada 3 Maret 2012 pukul 19:30

Perkembangan jaman bagai lintasan lintasan kisah tanpa jeda, bergerak demikian cepatnya tanpa batas. Membuka tirai dan dinding pemisah antar wilayah secara fisik maupun matriil, terbukanya ruang ruang privasi ke wilayah publik. Tekhnologi, memegang peranan penting dalam membuka batas batas privasi dan publik. Tak ketinggalan, perubahan itu juga terjadi pada wilayah kebudayaan. Tradisi telah mengalami digradasi dan pergeseran pergeseran berbarengan dengan majunya tekhnologi itu. Demikian juga bahasa ungkap ekspresi seni mengalami banyak perubahan tak terhindarkan sesuai pola pikir dan kreatifitas juga kebutuhan manusia akan kesenian, sebagai hiburan semata atau memiliki nilai lain seperti sebagai media penyampaian pesan moral atau bahkan untuk kepentingan ritual.
Pada kebudayaan kita ( baca: Indonesia ) dulu tradisi tutur memiliki peran yang sangat penting sebagai penyampai pesan moral yang berisi petuah petuah tentang nilai dan digunakan untuk media komunikasi publik, sehingga perkembangannya sangat subur dengan berbagai macam bentuk dan gaya ungkap karena pada masa lampau tradisi tulis hanya dimengerti oleh kalangan tertentu. Namun sekarang, hal itu berubah sangat drastis disebabkan munculnya media media baru yang dihasilkan dari kecanggihan tekhnologi. Maka tradisi tutur digusur dan lambat laun lenyap digantikan televisi, intrnet, handphone, dan lain sebagainya belum lagi tontonan baru yang lebih menarik minat masyarakat sebagai penghibur ditengah sumpeknya himpitan pemenuhan kebutuhan akan hidup yang makin sulit dan kompetitif. Atas kesadaran itulah sekarang muncul kembali upaya menghidupkan budaya tutur yang mulai luntur oleh beberapa seniman dan praktisi kesenian meskipun dikemas dalam bentuk yang tidak sama persis di masa lampau. Dan salah satu seniman itu adalah Ki Djaswadi, yang dengan kesadaran penuh merasa prihatin melihat tontonan yang tak lagi bisa dijadikan tuntunan.

Ki Djaswadi
Wayang sebagai media penyampaian pesan pesan moral melalui obyek seni pertunjukan ternyata memiliki banyak ragam dan bentuk, berawal dari bentuk beber (berupa layar bergambar yang dibentangkan) kemudian berkembang menjadi per obyek tokoh seperti sekarang ini, dan perupaan secara visual juga memiliki berbagai macam vareasi, dari yang pipih sampai dalam bentuk tiga dimensi. Bahan bahan yang dipakai untuk membuat wayang juga beragam, dari  kulit, kayu, pelepah,daun,rumput,bahkan barang barang bekas
Dari perkembangan perwujutan dan visual yang sangat beragam dapat ditengarai  bahwa wayang memiliki posisi penting dalam budaya tutur di masyarakat kita, terutama jawa.

Ki Djaswadi
Adalah Ki Djaswadi, seorang seniman tradisi dengan kreatifnya mengolah tradisi tutur menjadi tontonan yang memiliki muatan tuntunan. Lelaki sepuh ini berani menyatakan bahwa wayang tutur adalah hasil karyanya, dia bercerita bahwa kita telah kehilangan tradisi lesan yaitu tutur, yang kemudian hal ini mengilhami munculnya ide pembuatan wayang tutur. Wayang tutur ini bahannya terbuat dari plastik talang penyangga air, sebab sebelunnya pernah membuat dari kardus oleh karena mudah rusak karena air dan cuaca, maka digantilah dengan bahan plastik karet juga baru baru ini berkembang ke alternatif bahan lainnya seperti akar bambu dan batok kelapa. “saya akan mengusahakan menggunakan apapun bahan yang tadinya tidak terpakai untuk saya rangkai menjadi bentuk wayang, apalagi teman teman seniman yang lain juga mendukung ide dan gagasan,ini membuat saya makin bersemangat berkarya,” tutur beliau sambil menghisap  rokok kreteknya.
Alasan lain Ki Djaswadi mempopulerkan wayang tutur adalah berawal dari perkembangan seni kentrung yang sangat memprihatinkan, dan baginya kentrung kurang dari segi cerita, meskipun ada persamaan pada penyampaian tradisi tuturnya. Sebelum menggeluti wayang tutur dan kentrung pada tahun 1980an seniman gaek ini juga menjelajahi panggung panggung ketoprak, baik sebagai pemain, juru bayar, artistik dan pengkrawit. Begitu banyak aktifitas seni yang pernah digeluti Ki Djaswadi,  hal ini terlihat ketika saya berkunjung ke rumah beliau di desa Pekalongan Winong kidul banyak saya jumpai patung patung ukir sederhana. dan bukan hanya itu, ternyata sampai sekarang beliau juga mendidik anak anak sekolah untuk mencintai dan mengenal gamelan. Tercatat ada sekolah SD , SMP, juga SMA beliau pegang. Dari gamelan asli sampai gamelan program komputer.

Wayang Tutur
Wayang Tutur ini memiliki ciri penceritaan yang bersumber dari babat, dongeng, hikayat,dan cerita sosial masyarakat jadi tidak bersumber dari epos besar Ramayana dan Mahabarata seperti wayang Purwa. Pada ilustrasi musik pengiring tidak terpaku pada gamelan, Ki Djaswadi membuka diri berkolaborasi dengan berbagai pengiring seperti musik kroncong, musil mulut, dan musik alternatif macam Gagego Musik Kampoeng. Yang terpenting baginya adalah bagaimana pitutur yang dia sampaikan melalui media wayang ini bisa sampai di kalayak penikmatnya. Beliau tidak memilih milih tempat untuk menggelar pementasannya, kemunculannya berawal di acara Sedekah Bumi Pekalongan dengan Lakon “Dumadine Kitab Adam Makna” dengan iringan musik kroncong, kemudian Ndalang tunggal di desa Ndawung memakai gamelan mulut, di Sedekah Bumi Getaan, dan terakhir kemarin di acara Jemuwah Wagenan Gabus diiringi Gagego Musik Kampoeng dengan lakon “JAMADAGNI”


Lakon Jamadagni
Ramaparasu atau Ramabargawa adalah putra bungsu Brahmana Jamadagni yang beristrikan Dewi Renuka. Jamadagni semula adalah raja yang memutuskan diri menjadi pertapa dan hidup damai di padepokan.namun tiba tiba malapetaka datang tak terduga menimpaqnya. Suatu hari datanglah raja bernama Citrarata sedang berburu dan singgah mandi di telaga dekat padepokan. Ia adalah raja yang tampan, gagah dan bersuara merdu, siapapun yang mendengar pasti terguncang imannya. Kebetulan saat itu juga Renuka istri brahmana Jamadagni sedang memetik sayur, alkisah ketika melihat raja Citrarata dia tak dapat menahan diri, akhirnya lupalah nilai dan norma norma maka terjadilan perzinahan di telaga itu. Tiba tiba awan menjadi mendung, matahari kehilangan sinarnya,gelap gulitalah sekitar telaga, dikanan kiri geledek menyambar bergemuruh, sedang dua insan dimabuk asmara itu tidak menghiraukannya. Sedang  Jamadagni sudah mencapai tingkatan Brahmana,dia tidak risau dengan malapetaka yang menimpa keluarganya. Kemudian, ketika istrinya tak bisa menjawab perbuatannya Brahmana Jamadagni memanggil putra putranya dan menceritakan semua untuk kemudian menyuruh membunuh ibunya agar terbebas dari siksa. Betapa terkejutnya anak anaknya dan tentu manolak untuk membunuh ibunya. Karena menolak  mereka kemudian dikutuk menjadi binatang. Dari kelima putranya itu ada satu yang bernama Ramaparasu dan menyanggupi perintah ramanya. Setelah menyembah dipanahlah ibunya dan matilah ibunya. Karena sudah melaksanakan tugasnya maka Ramaparasu  diperbolehkan meminta lima hal untuk dikabulkan. Pertama dia minta ibunya dihidupkan kembali, kedua keempat saudaranya dikembalikan ke wujud manusia, ketiga  hilangkan dosaku telah membunuh ibuku, keempat minta umur panjang, kelima minta kesaktian tiada tara dan hanya mati oleh dewa Wisnu sendiri. Demikianlah permohonan itu telah dikabulkan semua dan kembali tentramlah keluarga Brahmana Jamadagni seperti semula.

Jumat, 10 Februari 2012

JEMUWAH WAGENAN eneh...


Acara : Jemuwah Wagenan
kamis, 9 pebruari 2012
jam 19.00 wib sampai selesai
di pelataran jemuwah wage

bersama Mbah Jas
mempersembahkan:
WAYANG TUTUR
dilanjutkan dialog budaya
di KOMUNITAS JEMUWAH WAGE - Gabus
  
 
Mbah Jas
Seperti malam jemuwah wage selapan hari (35 hari) yang lalu Komunitas Jemuwah Wage Gabus melaksanakan "tirakatan melekan" bersamaan dengan Barongan menjalankan ritual bersih desa mengitari Desa Gabus, akan tetapi suasana malam jemuwah wage kali ini terasa lebih sumringah karena suguhan pementasan "Wayang Tutur" oleh Ki Dalang Mbah Jas dan dalam pementasannya Mbah Jas membawakan lakon (lampahan) Yama Dakni.
Yang menjadikan wayang Mbah Jas ini lain dari pementasan wayang pada lazimnya adalah bentuk wayang yang ditampilkan, tampilan wayangnya ada 2 (dua) macam yaitu wayang yang terbuat dari bathok (tempurung kelapa) dan wayang yang terbuat dari bahan karpet plastik (biasa untuk talang air) dengan profil tokoh-tokoh kethoprak. Pada akhir cerita sang dalang menyampai petuah-petuah (pitutur) yang berkaitan dengan lakon yang dimainkan sehingga penonton dapat mengambil hikmah dari cerita yang telah disajikan, oleh karena itulah disebut wayang tutur.
Pada Jemuwah Wagenan kali ini juga banyak konco-konco penggiat seni dari sekitar Pati, Margayoso, Juwana, Kayen, Winong hadir, juga para sesepuh tokoh masyarakat dan pejabat di Kecamatan Gabus turut hadir meramaikan acara. Memang tidak sekedar melekan yang dilakukan, tetapi ada hal yang dibahas yaitu menyusun rencana perayaan 17-an yang akan diisi dengan pentas seni dan budaya, seperti dikatakan oleh mas Didik, " Kami masyarakat Gabus merindukan adanya kegiatan seni dan budaya seperti yang pernah terjadi sekitar 20 tahun yang lalu.....", maka terjadilah dialog.... 
Apapun perbincangan jemuwah wage kali ini kita tunggu saja hasilnya...

WAYANG TUTUR 
lakon "Yama Dakni"
 
Bercerita tentang kehidupan seorang Raja yang bernama Yama Dakni.
Kemapanan tidak  memberikan kepuasan batin bagi seorang Raja sehingga membuat Sang Raja memutuskan meninggalkan  keduniawian pergi bertapa, akan tetapi ditengah pensucian diri godaan menimpanya, Sang Permaisuri yang ditinggalkan terpikat pada seorang lelaki. Dari sinilah prahara kehidupan keluarga mulai terjadi.

Ternyata setinggi apapun derajad kemanusiaan seseorang tetap akan mengalami godaan hidup, tinggal mampu atau tidak menjalaninya……
 

Senin, 16 Januari 2012

BARONGSAI Mengitari Desa Gabus

Menjelang tahun baru imlek 2563 warga Tionghoa di Desa/Kec. Gabus Kabupaten Pati merayakannya dengan menghadirkan pertunjukan Barongsai, pertunjukan ini disambut meriah oleh warga gabus sehingga mereka tumpah ruah memenuhi jalan raya ingin melihat pertunjukan Barongsai. 

Barongsai diarak mulai dari Tugu Gabus ke arah selatan lalu kembali dan mengitari Pasar Gabus dan kembali ke sekitar tugu, dalam perjalanannya barongsai melakukan atraksi memungut Angpao dirumah-rumah maupun toko yang oleh pemilik rumah angpao diletakkan atau digantung di tempat yang tinggi sehingga untuk mengambilnya barongsai harus berdiri dan ini menjadi atraksi yang menarik, karena penari harus berdiri bergendongan untuk dapat mencapai ketinggian angpao.  
 
Menurut warga Tionghoa pertunjukan barongsai merupakan pertunjukan yang dapat membawa keberuntungan selain itu juga dipercaya dapat menolak bala dan kesialan bagi warga Tionghoa, sehingga diharapkan rumah yang dihampiri barongsai akan mendapat keberuntungan dan terhindar dari kesialan.

Konon ceritanya, ada beberapa versi sejarah Barongsai. Yang paling terkenal adalah versia Nian (monster). Pada masa Dinasti Qing, di satu wilayah di China ada monster yang mengganggu penduduk setempat hingga menimbulkan keresahan dan ketakutan. Saat itulah muncul singa (barongsai) untuk menghalau monster tersebut. Akhirnya, monster kalah dan lari ketakutan.
 
Setelah itu singanya pergi. Tapi monster ini ternyata mau balas dendam dan masyarakat tidak tahu. Mereka bingung, ada di mana singa yang bisa mengalahkan monster itu. Akhirnya mereka buat kostum barongsai seperti yang ada sekarang, dan berhasil menyingkirkan monsternya.

Hal inilah yang mendasari mengapa barongsai selalu hadir dalam perayaan Imlek, yaitu mengusir monster yang kita samakan dengan aura-aura yang buruk.

Demikian pula yang telah dilaksanakan warga tionghoa gabus, semoga keberuntungan menyelimuti bukan saja warga tionghoa tapi seluruh warga masyarakat gabus dan terhindar dari malapetaka atau kesialan, Amin..


Senin, 12 Desember 2011

PASAR GABUS (sebuah kenangan tentang “Ruang Publik-Ruang Bermain”)

Oleh Brandhal's Pati pada 27 Agustus 2010 pukul 22:15 wib.

Kemarin, saya dan beberapa kawan masuk komplek pasar Gabus setelah sekian lama hal itu tak pernah saya lakukan. Mungkin didorong oleh kerinduan saya pada masa kecil ketika pasar itu masih terbuka, belum berdinding tembok dan menjadi arena bermain anak-anak seusia saya dan mas-mas dan mbak-mbak saya ke atas.
Di masyarakat Gabus ada kepercayaan terkait dengan pasar yang akhirnya menjadi adat istiadat setempat, ada mitos bagi pasangan yang baru menikah akan melakukan acara keliling pasar sebanyak tiga kali, dan jika tidak dilakukan yang bersangkutan akan menjadi gila, dan hal ini masih dilakukan sebagian besar masyarakat Gabus, selain aspek mitos ada aspek logika sebagai pemberitahuan kepada publik tentang pasangan yang baru menikah itu, karena pasar salah satu area publik masyarakat Gabus.
Ya, saya ingat betul masa-masa itu, apapun permainan anak mayoritas kami lakukan didalam komplek pasar itu, dari olan-olan (sejenis permainan kelereng), jirak (sejenis permainan karet) gobak sodor, laker, gangsingan, slentik-an atom, kasti, bahkan main sepak bola (mungkin sekarang orang menyebutnya futsal) dan masih banyak lagi permainan teman-teman perempuan seperti seprento, dakon dan bekel yang tentunya siapapun pernah main di pasar Gabus akan mengingatnya.
Selain sebagai arena bermain masa kecil di masa saya, pasar itu juga menjadi Ruang Publik masyarakat Gabus, mulai dari sebagai tempat pemilihan kepala desa dan pemilu sampai acara tradisional dan arena tempat kesenian, setiap acara sedekah bumi secara rutin ada acara kesenian tradisi seperti wayang kulit, ketoprak, barongan dll. Yang sebelumnya biasanya pada siangnya sebelum wayangan ada bancakan kenduren sedekahan bersama berebutan nasi tumpeng dan betapa berharganya sebutir telur...
Heeemmmm... teringat jelas keriuhan dan kebersamaan kala itu, dan wayangpun mulai dimainkan sampai malam, anak-anak seusiaku dulu biasa keluyuran sampai malam, main pek-to (petak umpet) dan nimbrung nombok lotre mondok (dapatnya telur) bahkan dadu kumpul orang dewasa, pokoknya suasananya menyenangkan dan meriah.

Namun sesuai perkembangan jaman dan makin bertambahnya para pedagang di pasar membuat semua itu lambat laun mulai hilang, tak ada lagi lantai pasar yang lenggang selepas pedagang jualan, pasar sudah tertutup tembok, tak terdengar lagi keriuhannya radius dua ratus meter, tak ada penjual jamu dan sulapan, tak bisa lagi anak-anak bermain di lingkup dalam komplek pasar karena los-los kanan kiri sudah penuh lemari, tak ada berebutan layangan dan nge-jo benang layangan, tak ada ketoprakan malam lagi, tak ada lotre mondok dan dadu lagi... dan di sore itu, di pasar yang sama saya terkenang semua itu, mungkin hal ini dirasakan juga kawan-kawan seangkatan saya ke atas, yang sekarang masih tersisa adalah barongan malem jemuwah wage keliling kampung.
Gabus tempat dimana dulu saya dilahirkan di samping utara pasar menyimpan banyak kenangan, teringat pagi-pagi di masa saya belum sekolah banyak mbah-mbah kencing dengan bebasnya berdiri cuma dengan menjinjing kain jarik (ha ha ha...) pemandangan yang mungkin tak lajim di jaman sekarang, tukang obral berikut banjetnya, bakul jamu sambi pengobatan dan sulap, semua berjalan mengalir dan tanpa diburu waktu seperti laju kehidupan sekarang ini. Kini pasar telah berkembang pesat dan sesak, jajanan tradisional juga mulai tergantikan makanan pabrik, di sebelah barat pasar kira-kira seratusan meter telah berdiriminimarket waralaba, jalan ramai sepeda motor menggantikan dokar sebagai angkot di wilayah pasar, semoga nadi perekonomian terus berputar dan pasar tradisional tidak ikut punah seperti hilangnya areal publik tempat bermain saya dulu, semoga tidak digusur menjadi mall dan supermarket seperti yang terjadi di kota-kota besar dan tetap menjadi sumber penghasilan menggerakkan perekonomian masyarakat bawah ...semoga...!!!.

Salam,
Gabus, Jemuwah Pahing 27 Agustus 2010
Lor Pasar Gabus 

Minggu, 04 Desember 2011

JEMUWAH WAGENAN

 
kumpulan jemuwah wagenan
kamis, 1 desember 2011
jam 20:00 wib
di pelataran jemuwah wagenan

diisi pentas monolog “PECERèN” oleh dwi riyanto
dan diskusi budaya
 



Kumpulan jemuwah wagenan merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Komunitas Jemuwah Wage Gabus pada tiap malem jemuwah wage bersamaan dengan ritual barongan muteri (mengelilingi) pasar Gabus.
Kumpulan dilaksanakan dengan suasana santai sambil minum kopi atau teh dan makan jajanan seadanya, berdiskusi ngalor ngidul tentang seni dan budaya.
Topik bahasan diskusi yang diangkat tentang eksistensi dan kebanggaan atas budaya lokal yang mulai terdesak oleh budaya-budaya global. Satu hal yang pasti, pertentangan dan tarik-menarik yang terjadi antara budaya lokal dan global tersebut tak bisa dihindari, dan terus akan berlangsung, lalu bagaimana kita menyikapinya?
Dan kumpulan kali ini dipentaskan Monolog "PECERèN" oleh Dwi Riyanto dengan ilustrasi lagu oleh Gagego Musik Kampoeng.

photo posting : Anggit Tejo Sasongko

PECERèN adalah parit kecil yang berfungsi sebagai saluran pembuangan limbah keluarga
sekaligus saluran air hujan disekitar rumah.
Dalam perkembangan jaman karena kebutuhan akan rumah,
sering orang lupa untuk menyisakan tanahnya
guna difungsikan sebagai pecerèn.
Dan yang terjadi air limbah merambah ke tanah tetangga.
Hal tersebut akan menimbulkan pertengkaran.

Itulah tema monolog di komunitas jemuwah wagenan
desa Gabus - Pati - Jawa Tengah.
Sederhana..!!

Ilustrasi lagu "PECERèN" (Dirembug)
(Gagego Musik Kampoeng)
 
Bebarengan ayo dirembug perlune aja padu
ketemu karepe kebukak byak.. byak.. byak..
ayo padha ngguyu..
Ayo padha dikulinakna rembugan perkarane
aja karepe dhewe kebukak byak.. byak.. byak..
ayo padha ngguyu..
 
Pring sedhapur.. ing pinggir desa..
dadi tuladha.. kanggo para warga..
Ayo dulur.. sing padha akur..
aja dha tawur.. engko mundak ajur..
Iki ngono mung lelagon gegojegan



Sabtu, 03 Desember 2011

SEPIRIT BUDAYA

Pengertian secara umum tentang Budaya tidak bisa ditafsir secara material, sebab Budaya merupakan spirit dari masyarakat. Apalagi Budaya bukan sesuatu yang mati atau berhenti. Budaya akan selalu berputar sesuai perkembangan zaman. Kadang orang menjadi kaget dengan perkembangan sikap manusia (terutama pada masyarakat Indonesia) yang budayanya sangat dilandasi dengan nilai-nilai, etika, estetika dan adat-istiadat yang kuat.
Tetapi pada akhir-akhir ini Indonesia sedang mengalami fase yang tidak jelas. Itu terjadi karena pengaruh perkembangan politik, ekonomi dan komunikasi. Hal ini tampak sangat nyata dengan munculnya sikap pragmatis, materialistis dan konsumtif yang membabi buta. Tata nilai akhirnya menjadi sesuatu yang asing. Sementara waktu perkembangan negatifnya memang sulit dibendung. tetapi pada saatnya akan menuju ke normatif kembali. Ibarat COKROMANGGILINGAN.
Teknologi dan komunikasi sangat berpengaruh kuat. Dalam menerima dua hal tersebut, kita hanya berkutat pada sampahnya teknologi dan komunikasi belaka.. Bahwa hanya efek negatifnya saja yg dikembangkan. Karena kita sebenarnya gagap untuk menerima, sehingga memunculkan sikap kamuflase. Bangga dianggap maju, dan moderen. Sikap beginilah yang akan melunturkan tata nilai, etika dan estetika. Orang tidak punya pijakan kepribadian yang kuat.
PENDIDIKAN, Sistem Pendidikan juga malah ikut andil dalam terkikisnya jati diri anak bangsa. Dengan format standar internasional yang diadakan sendiri karena pada prinsipnya tidak ada standar seperti itu di dunia, menjadikan pelajar sangat terbebani dengan materi pelajaran. Anak belajar dari pagi hingga sore, hal ini akan mencipta sikap individual yang tinggi, dan mencipta sikap materialistis karena beban biaya pendidikan yang tinggi pula.
TRADISIONAL. Bagi kita yang mengkategorikan kesenian asli Indonesia masuk dalam kesenian tradisional adalah keliru besar. Nampaknya kita terlalu tidak percaya diri atau minderwaardeh dan berjiwa inlander. Sebab bentuk kesenian yang ada sudah terbentuk ratusan tahun yang lalu, dan seni tidak mengenal waktu. Memakai istilah tradisional artinya secara kejiwaan kita lemah dan tidak bangga dalam menegakkan diri sebagai bangsa untuk sejajar dengan bangsa lain.
(Dwi Riyanto)

Sabtu, 26 November 2011

Riwayat Pati

Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara". Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu "keris rambut pinutung dan kuluk kani" merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan.
Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.

 

Kevakuman Pemerintahan di Pulau Jawa

Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri.
Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten.
Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu. 1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama Yudhapati, wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai putra bernama Raden Jasari. 2. Penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama: Puspa Andungjaya, wilayah kekuasaannya meliputi utara sungai Juwana sampai pantai Utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan

 

Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Berbesanan

Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama "Sapanyana".
Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.
Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik).
Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkawinan antara " Raden Jasari " dan " Rara Rayungwulan " gagal total.
Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.
Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama " Singasari ".

 

Kadipaten Pesantenan

Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama " Kadipaten Pesantenan dengan gelar " Adipati Jayakusuma di Pesantenan.
Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu " Raden Tambra ". Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar " Adipati Tambranegara ". Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Menjadi songsong agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat.

 

Kabupaten Pati

Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.
Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ..... Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar "Rakai", Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya.

 

Pati Bagian dari Majapahit

Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ..... Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka.
Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit.
Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323.

 

Hari Jadi Pati

Kemudian diadakan seminar pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati yang dihadiri oleh para perwakilan lapisan masyarakat Kabupaten Pati, para guru sejarah SMA se Kabupaten Pati, Konsultan, Dosen Fakultas Sastra dan Sejarah UNDIP Semarang, secara musyawarah dan sepakat memutuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati.
Tanggai 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor : 2/1994 tanggal 31 Mei 1994, sehingga menjadi momentum Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala " KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI " yang bermakna " Dengan bekerja keras dan penuh do'a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah ". Untuk itu maka setiap tanggal 7 Agustus 1323 yang ditetapkan dan diperingati sebagai "Hari Jadi Kabupaten Pati".
Tulisan diunduh dari: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pati